|
| Bali Jaya - Kerajinan Kapstok
| Mendengar nama usaha kerajinan Bali Jaya, asumsi orang langsung mengarah bahwa perusahaan kerajinan tersebut milik orang Bali. Anggapan orang itu pun memang tidak keliru karena Bali Jaya didirikan oleh Nyoman Puspa Kosala yang memang kelahiran Pulau Dewata, Bali, 29 tahun yang lampau. Dia hijrah dari Bali ke Yogyakarta tahun 2001 dan terus bekerja di sebuah perusahaan mebeler di Bantul dengan jabatan terakhir sebagai QC (Quality Control). Baginya bekerja selama 2,5 tahun di tempat tersebut sudah cukup untuk menimba ilmu dan pengalaman seputar usaha permebelan.
Perajin yang akhirnya menikah dengan gadis Bantul (Azizatul Anisa-red) ini akhirnya menetap di Jl. Imogiri Barat, Km 8,8 Dusun Sudimoro Timbulharjo Sewon Bantul yang juga tempat tinggal isterinya. Melihat banyak pengangguran di sekitar tempat tinggalnya, Nyoman akhirnya memberanikan diri membuka usaha kerajinan dari bahan utama kayu, yaitu kapstok (Pine Tavern Shelf) atau gantungan baju, handuk, jas atau apapun yang biasa digantungkan. Penempatan benda tersebut biasanya ditempelkan di dinding, bisa di kamar mandi, kamar tidur atau ruang keluarga. Bentuk kapstok produksi Bali Jaya yaitu segi empat dengan ukuran rata-rata 90 X 35 X 18 cm. Ada 3 laci ditengahnya yang bisa digunakan untuk menyimpan sesuatu.
Menurut bapak 1 putera ini pihaknya baru bisa memproduk 1 macam jenis mebeler dan itupun dia hanya memfinishing saja. Jadi jumlah tenaga kerja yang 20 orang itu hanya menerima bahan setengah jadi dari setoran teman Nyoman di Jl. Magelang Yogyakarta. Sampai di Bali Jaya, tinggal diamplas dan disemprot cairan warna khusus. Masalah modal menjadi alasan utama mengapa hanya baru bisa memproses satu jenis mebeler. “Kepinginnya berbagai jenis yang akan saya produksi, tapi modalnya juga harus banyak” tutur Nyoman.
Usaha yang dirintis lulusan SMU ini baru berjalan sekitar 3 bulan. Dia merasa optimis usahanya akan terus berkembang, karena saat ini dia juga sudah punya satu kerjasama dengan perusahaan / trading. Menurut pengetahuannya produknya itu biasa dikirim ke Singapura. Bahan yang digunakan yaitu kayu pinus, mete dan mahoni. Dalam sebulan dia bisa memfinishing 400-500 produk dengan harga satunya Rp 20.000. Dari angka tersebut bisa dilihat omzet per bulannya yaitu Rp 8-10 juta.
|