|
| Intan Berseri Product - Penghasil Briket Limbah
| Sejak tahun 2001, Purwanti yang adalah seorang pedagang kacang mentah di Pasar Bringharjo, hanya membuang limbah kulit kacang yang jumlahnya cukup banyak itu. Paling tidak hanya dijual sebagai bahan bakar pengrajin tahu dengan harga yang sangat murah. Baru pada tahun 2006 ada pelatihan membuat briket arang dari bahan sampah yang diikuti oleh Edy Gunarto (suami Purwanti), selama enam hari di balai desa Sidomulyo. Pelatihan itu sendiri dilakukan oleh sebuah LSM.
Setelah pelatihan, Edy Gunarto bersama 4 (empat) orang teman sekampungnya, merintis pembua-tan briket arang dari limbah kulit kacang, maupun tongkol jagung. Dari rintisan tersebut, tahun 2007, Edy Gunarto mendapat pinjaman alat penggilingan arang 1 unit, alat press briket 2 unit dan 1 unit alat mixer arang berkapasitas besar, milik Desa Sidomulyo. Dalam tahun yang sama, bersama Pemerintah desa Sidomulyo, Edy Gunarto membuat sendiri 1 unit alat mixer arang bertenaga listrik, untuk menghancurkan arang limbah menjadi bubuk yang siap dicampur dengan kanji untuk dipres menjadi briket.
Usaha perorangan yang dikelola Edy Gunarto diberi label nama “Intan Berseri Product”. Saat diwawancarai Selasa (06/04) di rumahnya dusun Plebengan, Sidomulyo, Bambanglipuro, Edy menjelaskan bahwa walaupun usaha ini atas nama pribadinya (karena tertera dalam HO, SIUP dan TDP), namun dapat pula dipandang sebagai usaha kelompok. Anggota kelompoknya ada 10 orang, yakni Edy bersama 3 rekannya yang mengelola briket dan isterinya Purwanti bersama 5 orang ibu yang membantu mengupas kacang dan memipil jagung. Sebagai sebuah kelompok mereka sering berkumpul untuk membahas berbagai hal tentang usaha briket.
Limbah kulit kacang maupun tongkol jagung dihasilkan sendiri oleh usaha sang istri. Namun dengan prinsip manajemen usaha, 2 jenis limbah tersebut, tetap dihargai sebesar Rp. 150 ribu per colt, terutama untuk menghitungan rata-rata biaya produksi. Bila persediaan bahan baku kurang, pengadaannya dengan membeli kepada pedagang kacang mentah ataupun jagung.
Saat ini Edy Gunarto mampu memproduksi 100 kg briket per hari dari 200 kg limbah kulit kacang maupun tongkol jagung. Harga jual Rp. 2.500 per kg dan biaya produksi rata-rata Rp. 1.800 per kg. Jika Satu bulan 24 hari kerja, maka produk yang dihasilkan sebanyak 2.400 kg. Dalam 1 kg terdapat 45 biji briket. Pengolahan briket dilakukan oleh 4 orang pekerja tetap termasuk dirinya. Masing-masing pekerja diupah Rp. 20.000 hari dan mendapat 1 kali makan siang. Jam kerja ditentukan bersama yakni dari jam 08.00 pagi sampai jam 16.00.
Pada bagian lain penjelasannya, Edy Gunarto menjelaskan bahwa proses pembakaran limbah menjadi arang, menggunakan drum kusus dengan suhu panas 200 0 selama 2 jam. Arang limbah selanjutnya dihancurkan menjadi bubuk arang dengan mesin penghancur. Bubuk arang limbah kemudian dicampur kanji dengan perbandingan 10 kg sampai 15 kg bubuk arang dan 1 kg kanji dengan proses alat mixer. Setelah menjadi adonan, seterusnya di pres menggunakan mesin pres manual. Sebelum siap dijual, briket tersebut dijemur selama 3 sampai 7 hari.
Pemasaran briket, tidak ada masalah. Selama ini selalu habis terjual oleh pembeli dari Solo dan Patang Puluhan Yogyakarta. Keunggulan briket ini antara lain : untuk 1 kg briket dapat menghasilkan panas 400 0 selama 1,5 jam, tidak berbau, tidak mengeluarkan asap, nyala stabil dan tidak menyebabkan alat masak hitam. Untuk menyulut briket agar membara, cukup menggunakan kertas dalam waktu 5 sampai 7 menit dan hanya sedikit mengeluarkan asap putih. Sedangkan bila menggunakan minyak tanah, akan mengeluarkan banyak asap hitam. Sebenarnya briket dari limbah kulit kacang dan jagung tersebut, berpotensi sebagai komuditi eksport. Namun setelah diteliti di Turki, kepadatan briket tersebut masih kurang. Hal ini disebabkan karena belum menggunakan alat pres yang mekanik.
Kendala yang dirasakan yakni di musim penghujan produksi terhenti total. Hal ini disebabkan karena penjemuran hanya dapat mengandalkan panas matahari. Bila menggunakan oven, selain investasinya mahal, dapat menyebabkan briket terbakar. Sampai saat ini, belum ada solusi terbaik. Bila tidak terlalu kering, dapat menyebabkan briket berwarna keputihan akibat jamur. Walaupun harga jualnya tetap sama, tetapi briket berjamur saat dibakar akan mengeluarkan aroma yang kurang sedap. Sedangkan briket yang tidak berjamur tidak mengeluarkan aroma atau tidak berbau. Untuk menjaga kualitas, tetap diusahakan agar briket yang dijual tidak berjamur.
Perusahaan Perseorangan : Intan Berseri Product
Alamat : Plebengan, Sidomulio, Bambang Lipuro, Bantul, DIY
Hp. No. 0815 7972 735
|