|
L a w a n - Petani Tanaman Tumpangsari Bawang Merah dan Lombok Banyak jenis tumpangsari yang biasanya ditanam oleh para petani seperti jagung dan kacang tanah atau tomat dan kubis. Tapi yang akan diangkat dalam tulisan kali ini adalah tumpangsari bawang merah dengan lombok. Tanaman tumpangsari ini banyak ditanam oleh petani di wilayah pesisir selatan Bantul seperti Srandakan, Sanden dan Kretek. Keuntungannya yakni dapat memaksimalkan hasil dari lahan pertanian yang sempit dan biaya pengolahan tanah yang lebih murah karena 2 atau lebih jenis tanaman ditanam dalam waktu yang bersamaan atau hampir bersamaan.
Tanaman tumpangsari biasa ditanam pada waktu sela antara musim tanam padi. Bawang merah dan lombok dipilih petani karena sifat pengolahan kedua jenis tanaman tersebut hampir sama. Sebelum ditanam, lahan pertanian diolah dalam bentuk bedeng, kemudian digemburkan dan diberi pupuk dasar. Saat bawang merah ditanam, petani juga menyemai bibit lombok. Sehingga setelah bawang berumur 20 hari, lombok sudah mulai ditanam. Bawang merah dipanen setelah 60 hari yang ditandai mulai mengeringnya daun bawang. Sedangkan lombok dipanen setelah 90 sejak disemai dan dipanen 5 sampai 6 kali panen dalam selang waktu seminggu.
Jenis bawang merah yang ditanam di wilayah desa Tirtohargo Kretek adalah bawang merah tiron dan bawang biru. Bawang tiron cukup tahan terhadap tingginya curah hujan sedangkan bawang biru tahan terhadap kurangnya air. Kedua jenis bawang ini juga cukup tahan terhadap hama penyakit, sehingga harapannya dapat memberikan panenan yang cukup berhasil. Lawan salah seorang petani di Tirtohargo saat ditemui di kebunnya Selasa (22/02) menjelaskan bahwa; di atas lahan 120 ru atau sekitar 1700 m2 miliknya, ia membutuhkan 150 kg bawang tiron. Bila dibeli, berarti Lawan harus menyiapkan dana sebesar 150 kg x Rp. 32.000 = Rp. 4.8 juta. Namun umumnya bibit sudah dimiliki petani.
Besarnya biaya dalam satu musim tanam bawang dan lombok diperkiran sebesar Rp. 6.9 juta. Jika dirinci : bibit bawang Rp. 4.8 juta, pembuatan bedeng Rp. 1.1 juta, obat-obatan Rp. 500 ribu, pupuk Rp. 200 ribu dan upah tenaga Rp. 300 ribu. Namun dengan perkiraan hasil panen bawang sebanyak 2.000 kg a’ Rp. 6.000 = Rp. 12 juta dan hasil panen lombok sebanyak 2.500 kg a’ Rp. 10 ribu = Rp. 25 juta. Dalam 1 musim tanam bawang dan lombok pada lahan 1700 m2, Lawan bisa memperoleh hasil panen sebesar Rp. 37 juta. Dengan demikian Lawan bisa mendapatkan hasil bersih dari usaha tumpangsarinya sebesar Rp. 30.1 juta.
Perhitungan hasil di atas, tidaklah selalu konstan. Harga komoditi bawang dan lombok sangat fluktuatif. Bahkan sering kali menentukan sekali kondisi fluktuasi tingkat inflasi baik secara nasional maupun regional. Hal ini disebabkan pula karena bawang dan lombok sering dapat ditanam di luar musim tanam yang seharusnya. Bawang tiron dari Tirtohargo sudah cukup di kenal dengan kualitas baik atau sering disebut juga dengan kualitas samas. (Nura/Fernandez)
----------------------------------------------------
Lawan : d/a. Tirtohargo, Kretek, B Dengan demikian antul
|