|
• 03 Sep 2010 , 09:44:45 Berciri Khas Anyaman, Adhi Sukma Eksis di Sektor Meubel Kayu Adhi sukma yang awal usahanya bergerak di bidang mebel besi, setelah gempa jogja 2006 berpindah haluan ke meubel kayu dan handycraft. Ciri khas anyaman pun dipilih Murdani, pemilik Adhisukma yang diaplikasikan pada berbagai macam furniture dan kerajinan tangan lainnya. Sejak mulai usaha tahun 1993, Murdani mampu mempertahankan usahanya hingga sekarang. Meskipun volume penjualan dan tingkat keuntungan semakin kecil, Adhisukma tetap menghasilkan produk berkualitas demi kepuasan pelanggannya.
Sukses mempertahankan usaha ditengah kondisi krisis global, tidak lepas dari kerja keras Murdani dalam memberikan yang terbaik pada buyer asal dari Inggris dan Belanda. “ Kerjasama dengan kedua buyer tersebut sudah berjalan hampir 20 tahun dan selama ini tidak ada masalah. Kami selalu memperhatikan kualitas produk sesuai dengan permintaan konsumen”, penjelasan Murdani di workshopnya, barat pabrik gula madukismo Kamis (2/09/10). Murdani juga terus berinovasi, membuat produk-produk baru dan menjaga agar barang produksinya tidak di tiru.
Produk yang dihasilkan Adhi sukma antara lain kursi makan, kursi pendek (stool), kursi bulat, aneka box dari rotan dan berbagai handycraft dari anyaman rotan. “Hampir semua produk adhi Sukma menggunakan aplikasi anyaman” jelas Murdani. Bahan baku rotan didatangkan dari Kalimantan dan untuk rangka furniture didatangkan dari Pajangan dan Purwodadi. Umumnya rangka tersebut menggunakan kayu Jati atau Mahoni. Bahan lain yang digunakan seperti kulit kambing didatangkan dari Jawa timur.
Keselurahan produk yang dihasilkan adhi Sukma untuk melayani buyer pelanggannya dengan volume pengiriman 1 kontainer per bulan. Nilai penjualaan satu container tersebut sekitar Rp. 100 juta dengan keuntungan 10%. Kondisi tersebut jauh berbeda sebelum gempa jogja, dimana nilai dollar relatif tinggi. “ Dulu sebelum gempa dalam satu bulan kami bisa mengirim 4 kontainer dan keuntungannya pun mencapai 30%”, jelas Murdani.
Dalam proses produksi, Murdani memilih karyawan dari Tasikmalaya. “Untuk menjaga kualitas produk , kami memilih mempekerjakan karyawan yang telah terampil”, tambahnya. Sedangkan untuk quality control saya sendiri yang menangani. Keseluruhan karyawan Murdani berjumlah 20 orang yang digaji secara borongan. Para pekerja tersebut mampu menganyam 6-7 kursi dalam satu hari dengan upah borongan Rp. 12.000 per kursi. (Nura/Fernandez)
|