Language :
.:: Bahasa Indonesia .::  English  
About Us Contact Us Guestbook
Investment Crafts Tourism BizDirectory BizNews
05 Feb 2012
BizNews
Arsip Berita
 

 

 
• 02 Sep 2010 , 22:16:45
Shuttle Cock Buatan Bantul Merambah Pasar Nasional

Tekun dan jeli mungkin julukan yang pantas bagi Sutomo sang perintis usaha shuttle cock yang kini telah mewariskan usaha tersebut kepada anak dan menantunya. Betapa tidak, usaha yang telah dimulai sejak 1984 kini masih tetap eksis. Bahkan telah mampu melebarkan pasarnya ke Sumatera, Sulawesi dan Nusa Tenggara Barat selain di daratan pulau Jawa. Agar dapat membedakan dengan produksi shuttle cock lainnya, ia memberi merk dagang “Mataram Super”, sekaligus sebagai nama usahanya.

Sekarang untuk memproduksi shuttle cock, Aris Budiarto dan isterinya Nurhayati tinggal membeli bulu ayam potong yang sudah disortir dari Magelang dan Muntilan. Menurut Aris yang sangat fasih tentang mutu dan harga bahan baku ketika ditemui di rumahnya Rabu (01/09), bulu ayam yang berkualitas yakni bagian sayapnya. Sedangkan bahan baku lainnya seperti dof, pembungkus dof, benang nilon, pita dan slop serta kertas merk usahanya dipesan dari Solo. Walaupun agak mahal, namun sekarang slop sudah dapat dibeli produk buatan Bantul.

Harga jual yang ditawarkan juga cukup bersaing yakni untuk shuttle cock kw. 1 Rp. 37.000 per slop, Kw. 2 Rp. 30.000 dan kw. 3 ada tiga standard harga yakni Rp. 21.000, Rp. 18.000 dan Rp. 14.000. Sementara ini kw. 2 tidak diproduksi. Menurut Aris, yang paling laris terjual adalah kw.3 karena banyak dipesan oleh para pelatih club badminton. Strategi promosi untuk meraih pasar masih sangat konventional yang sangat mengandalkan relasi yang dimiliki. Sehingga peliputan oleh reporter bantulbiz.com dipandang sangat membantu promosi usahanya.

Saat ini Mataram Super mampu memproduksi 2.500 slop per bulan atau 30.000 shuttle cock. Kapasitas produksinya masih dapat ditingkatkan, sepanjang ada permintaan pasar. Bulu ayam dibeli dalam satuan biji, dengan harga Rp. 70 / biji untuk kw 1, Rp. 40 untuk kw. 2 dan Rp. 10 / biji untuk kw. 3. Dalam 1 bulan Mataram Super membeli 160.000 biji bulu ayam kw.1. Sedangkan dof untuk kw.1 dari bahan gabus atau kayu bakau, untuk kw 2 dan kw.3 semuanya dari kayu bakau. Harga per lusin dof kw. 1 Rp. 4.500 dan kw. 2 Rp. 3.500.

Ketika disinggung besarnya biaya produksi, Aris secara terbuka menjelaskan bahwa untuk shuttle cock kw. 1 Rp. 27.000 dan untuk kw. 3 Rp. 11.000 per slop. Itu berarti tingkat keuntungan yang dapat diraup cukup besar dari usaha ini yakni rata-rata 30 %. Dengan kondisi seluruh kapasitas produksi saat ini habis terjual, maka omzet penjualan per bulan mencapai Rp. 56 juta.

Untuk usaha home industri seperti ini memang masih tergolong berskala kecil/mikro. Dengan letak tempat usahanya yang agak jauh dalam perkampungan, menjadikan usaha Aris dan Nurhayati kurang cepat dikenal oleh masyarakat luas. Ke depannya mereka berdua ingin memiliki show room untuk produk shuttle cock yang terletak dipinggir jalan protokol Bantul. Strategi promosinya juga akan lebih diperhatikan dan ditingkatkan demikian keinginan Aris dan Nurhayati. (Nura/Fernandez)


 
   

www.bantulbiz.com
Copyright © KPDE Pemkab Bantul - 2004
All Rights Reserved.
Page loaded in 0.18 sec.
>> WebStats