Language :
.:: Bahasa Indonesia .::  English  
About Us Contact Us Guestbook
Investment Crafts Tourism BizDirectory BizNews
05 Feb 2012
BizNews
Arsip Berita
 

 

 
• 12 Aug 2010 , 09:55:31
Usaha Krecek Windasari Diantara Jabatan Formal Sang Pemilik

Sebagai perajin krecek kulit mungkin tidak terlalu bergengsi dibandingkan dengan jabatan formal seseorang baik di Pemerintahan maupun swasta. Usaha tersebut kerap hanya dipandang sebagai sampingan, walaupun penopang utama ekonomi keluarga. Itulah kenyataan kondisi usaha tertentu seperti krecek yang walaupun memberikan kontribusi cukup besar bagi pendapatan keluarga, namun pengelolaannya tidak beranjak dari pola konvensional.

Saat ditemui di Balai Desa Segoroyoso Senin (09/08), Mardiyono mengatakan bahwa bila dilihat dari aspek pendapatan, krecek rambak yang telah digeluti sejak 1990, merupakan usaha pokok. Penghasilan yang didapat dari jabatannya sebagai Kaur Umum Desa, jauh dari cukup untuk membiayai kebutuhan keluarga. Demikian pula dengan honor istrinya Sri Haryani sebagai staf KUD Pleret. Namun dari status mereka yang masih aktif pada profesi masing-masing, memperlihatkan bahwa keduanya lebih nyaman pada posisi tersebut dibanding melulu sebagai pengusaha krecek rambak.

Bila dilihat dari proses pembuatannya, pengolahan krecek rambak membutuhkan perhatian ekstra, terutama pada tahap pengungkepan yang memakan waktu 8 – 12 jam. Hanya pada suhu panas tertentu, rambak yang ditelah dipotong kecil-kecil, dapat mengembang dengan sempurna saat digoreng untuk siap dijual. Wawasan dan pengalaman sangat menentukan keberhasilan usaha tersebut. Mardiyono menjelaskan juga bahwa ia pernah merugi cukup besar, karena karyawannya sedikit mangkel terhadapnya, sehingga sengaja membiarkan proses pengolahan tidak sempurna pada tahap pengungkepan ini.

Sebagaimana umumnya setiap produk makanan harus berlabel untuk memperoleh SP-IRT, usaha krecek Mardiyono dan Sri Haryani diberi label ”Windasari”. Setelah memiliki ijin dari Dinas Kesehatan, krecek rambak dapat dijual di berbagai supermarket dan bukan hanya di pasar tradisional. Itu berarti pangsa pasarnyapun semakin meluas, sehingga kecil kemungkinan mengalami stagnasi usaha karena pasar. Dalam kondisi seperti ini, wawasan ke depan dari pemilik sangat menentukan apakah akan berkembang atau tetap seperti apa adanya.

Pada musim tertentu permintaan krecek rambak meningkat tajam. Biasanya pada bulan besar, puasa dan lebaran serta liburan sekolah. Untuk mengantisipasi permintaan pasar yang meningkat, Mardiyono selalu memiliki stock lebih yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. Rambak yang telah diungkep dan dijemur dapat disimpan selama kurun waktu 1 tahun dalam kantong-kantong plastik. Bila akan digoreng, sebaiknya dijemur lagi agar hasilnya maksimal, demikian Mardiyono mengakhir perbincangan kami. (Nura/Fernandez)


 
   

www.bantulbiz.com
Copyright © KPDE Pemkab Bantul - 2004
All Rights Reserved.
Page loaded in 0.79 sec.
>> WebStats