|
• 09 Aug 2010 , 09:00:35 Membangun Usaha Dengan Dasar Kecintaan Dan Keprihatinan. Soemarso keramik terus berusaha mempertahankan eksistensi usaha setelah mendapat hantaman gempa jogja dan krisis global. Sejak memulai usaha pada 1997, Soemarso keramik yang memproduksi aneka keramik terakota berusaha tetap eksis dan mengembangkan usahanya. Hantaman gempa jogja pada 2006 sempat membuat usaha ini vakum selama satu tahun. Krisis global pada 2009 pun tidak lantas membuat usaha ini terus terpuruk. “Kecintaan pada keramik dan mengingat nasib para karyawan membuat saya tetap berjuang mengembangkan usaha ini, demikian penjelasan Bambang di Gadungan, Kepuh, Canden, Jetis, Bantul, Jumat (06/08).
Kemampuan memproduksi keramik diperoleh dari ayahnya yang merupakan guru keramik dan juga background pendidikan Bambang di SMK jurusan keramik. Pengalam bekerja di pabrik turut memperkaya pengalaman dan ilmu tentang keramik terakota. Keramik terakota yang diproduksi Soemarso keramik mempunyai ciri khas finishing yang menarik. Kulit bambu, cangkang telur, rotan, pelepah pisang dan teknik pengecatan yang unik menjadikan tekstur keramik terakota yang dihasilkan unik namun harganya tetap terjangkau. “Seluruh keramik yang diproduksi merupakan hasil kreasi kami namun finishingnya menyesuaikan selera konsumen, “ jelas Bambang. Harga keramik terakota ini termurah Rp. 1.250 untuk souvenir hingga termahal Rp. 450.000 untuk satu set vas rotan.
Dalam menjalankan usahanya, Bambang memberdayakan pemuda di daerah sekitarnya serta dari daerah krapyak, Pundong. Proses pencetakan dilakukan di Pundong sedangkan proses finishing dilakukan diworkshopnya yang terletak di Canden, Jetis, Bantul. 8 orang karyawan harian dan 7 karyawan borongan mengerjakan proses finishing.
Untuk pemasarannya, selain menitipkan di Kasongan dan membuka stand di Pasar Seni Gabusan Soemarso Keramik menawarkan produknya melalui media internet. Setiap bulan sekitar 100 pieces keramik terjual untuk pasar lokal dengan omset Rp. 2.5 juta. Sedangkan untuk pasar manca negara, produk soemarso keramik beberapa kali pernah dibeli oleh buyer asing dari Amerika, Australia, Perancis dan Filipina. Total omset untuk penjualan ke luar negri mencapai Rp. 350 juta per tahun.
Ke depannya, Bambang ingin menambah pasar produknya dengan membeli kios di Ngasem baru, bekerja sama dengan perajin lainnya. “Untuk UKM seperti kami, masih belum mampu membeli kios sendiri” ujarnya saat menutup perbincangan kami. (Nura/Fernandez)
|