|
• 04 Aug 2010 , 09:41:43 Usaha Produksi Genteng Press “WPG Bantul” Masih Sulit Berkembang Genteng press yang selama ini dikenal dari Kebumen, nyatanya mampu diproduksi warga Bantul. Dengan merk WPG Bantul, yang merupakan identitas gabungan tiga kelompok produksi yaitu Wonotingal, Polosiyo dan Gunturgeni, genteng ini berusaha menjadi produk pilihan bagi khususnya warga Bantul. Kondisi yang mendukung yaitu belum adanya pesaing dan ketersediaan modal menjadi bekal memajukan usaha ini. Namun kondisi yang tersebut tidak diiringi dengan pengelolaan yang maksimal sehingga proses produksi belum berjalan secara berkelanjutan dan maksimal.
Untuk saat ini, kapasitas produksi 1000 genteng perhari belum dimaksimalkan yang hanya mencapai 500 – 750 genteng perhari. Proses produksi pun tidak berjalan tiap hari , tergantung ketersediaan modal .Suroto, Ketua Koordinator kelompok Wonotingal Selasa (03/08) menjelaskan, kelompoknya sebenarnya mempunyai modal yang cukup besar yaitu Rp. 45 juta bantuan dari LSM IOM. Namun pembayaran dari konsumen yang kurang lancer membuat modal usaha dan perputaran using semakin sedikit. “Piutang kelompok ini yang belum terbayarkan mencapai sekitar Rp. 15 juta”, jelas Suroto.
Genteng WPG Bantul yang diproduksi merupakan genteng kualitas I dengan harga jual Rp. 525 perbiji. Konsumen WPG akan mendapat garansi penggantian pada saat pengiriman dan garansi 1 tahun setelah pemasangan. “Selama ini belum ada klaim dari konsumen sehingga kami berani memberikan jaminan garansi tersebut” Jelasnya.
Pemasaran genteng WPG selama ini melayani konsumen yang mengambil langsung ke tempat produksi. Kelompok juga menjual genteng buatan mereka ke toko bangunan di sekitar Bantul. Saat ini pemasaran genteng agak tersendat sehingga stok genteng WPG menumpuk hingga mencapai 40.000 buah. Namun begitu, Suroto tidak khawatir karena berdasar pengalaman selama ini kurang dari satu bulan selalu ada pembeli yang datang.
Bahan baku pembuatan genteng press ini merupakan tanah liat yang didatangkan dari Godean dan Kulonprogo dengan harga Rp. 300.000 per satu truk. Tanah liat satu truk tersebut setelah diolah menjadi sekitar 3000 batu bata. Setelah terjual dengan harga sekitar Rp. 1.5 juta, keuntungan yang diperoleh sekitar Rp. 60.000 – 75.000 atau sekitar Rp. 20-25 per genteng. (Nura/Fernandez)
|