Language :
.:: Bahasa Indonesia .::  English  
About Us Contact Us Guestbook
Investment Crafts Tourism BizDirectory BizNews
05 Feb 2012
BizNews
Arsip Berita
 

 

 
• 27 Jul 2010 , 11:29:53
Jogonandan, Bersiap Menjadi Sentra Industri Gula Merah

Jogonandan dengan asset ribuan pohon kelapa, sangat berpotensi menjadi sentra industri gula merah. Ada seratus tujuh puluhan kepala keluarga (KK) di Jogonandan menjadikan pohon kelapa milik mereka sebagai sumber penghasilan keluarga. Nira kelapa diambil dan diolah menjadi gula merah. Setiap KK warga Jogonandan mampu menghasilkan sekitar 5 kg gula merah per hari.

Potensi produksi tersebut menjadi perhatian pemerintah desa Triwidadi untuk menjadikan Jogonandan, Butuh dan Ngincep sebagai sentra industri gula merah. Saat ini warga di 3 dusun tersebut telah memproduksi gula merah, namun masih dalam bentuk home industri. Menurut Jumikem saat diwawancarai oleh reporter bantulbiz.com di rumahnya Senin (26/07), peluang bisnis produk gula merah dengan skala home industri, jelas kurang dibandingkan produksi dengan skala industri.

Dalam skala industri, aspek higienis akan lebih diperhatikan. Pengolahan gula merah mulai dari penyaringan nira, proses memasak, penggunaan wadah bentukan gula merah, proses pendinginan sampai pada kemasan yang berstandar, akan dapat dikelola dengan lebih baik. Dengan demikian diharapkan produk gula merah produksi Jogonandan, mampu menembus pasar super market maupun hyper market di wilayah DIY dan kota-kota sekitarnya. Itulah harapan masyarakat di 3 dusun tersebut menurut Jumikem salah seorang pengurus Kelompok Usaha Bersama (KUB) Penderes di wilayah tersebut.

Pangsa pasar yang masih terbatas (hanya dapat masuk ke pasar tradisional dan kios-kios bahan kebutuhan pokok) dan harga yang masih beragam merupakan kelemahan sektor home industri umumnya. Gula merah yang selama ini di produksi warga dijual ke pasar-pasar tradisional dengan harga jual Rp. 10.500-11.000 per kg. Dengan dijadikannya sentra industri, kami berharap gula merah dari Jogonandan memiliki SP-IRT dan dapat dijual di supermarket bahkan hypermarket. Pada level tersebut harga jual produk diharapkan tidak dipermainkan oleh para tengkulak karena harga sudah ditetapkan lewat satu kebijakan harga. Demikian penjelasan lebih lanjut dari Jumikem.

Tidak semua warga Jogonandan yang memiliki puluhan pohon kelapa dan menjadi penderes, memproduksi gula merah. Warga yang tidak memproduksi dapat menjual nira dengan harga Rp. 2500-3000 per liter atau diolah menjadi legen dengan harga jual Rp. 7000 per liter. “Untuk penjualan nira dan gula kelapa, warga bisa menjual kepada pengepul anggota Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang telah ditunjuk. Pada masing-masing dusun : Jogonandan, Ngincep dan Butuh, telah ditunjuk satu orang pengepul. Mereka itu antara lain Jumiken sendiri untuk Jogonandan, Miskiyo untuk dusun Ngincep dan Bu Dukuh Butuh untuk dusun Butuh. Selama ini gula merah produksi warga selalu habis terjual, jadi untuk pemasaran kami tidak mengalami kesulitan” tambah jumikem.

Hasil olahan nira tidak hanya menghasilkan gula merah, variasi lain dengan penambahan kelapa muda, kacang dan jahe menghasilkan produk lain yaitu ampyang, gula semut dan gula jahe. Untuk gula ampyang harga jualnya Rp. 3000 per 5 biji, gula semut Rp. 700 per biji dan untuk gula jahe Rp. 5000 per 7 biji. (Nura / Fernandez)





 
   

www.bantulbiz.com
Copyright © KPDE Pemkab Bantul - 2004
All Rights Reserved.
Page loaded in 0.27 sec.
>> WebStats