|
• 18 Mar 2010 , 12:16:03 Kelompok Batik Giri Asri : Dari Buruh Menuju Juragan Batik Bagi kebanyak kaum perempuan di pedesaan, menjadi pembatik dapat saja sekedar menyalurkan bakat, tetapi juga bisa merupakan panggilan jiwa untuk memelihara budaya leluhur. Sebagai pembatik, mulanya mereka tidak memikirkan proyeksi ekonomis yang mungkin menjanjikan. Pemikiran progresif untuk mendorong para pembatik menjadi juragan batik, muncul dari sosok seorang kaur kesra desa Karangtengah, Pargiyanto.
Dalam perbincangan dengan Pargiyanto Senin (15/03) di Balai Desa Karangtengah, menjelaskan bahwa sebenarnya menjadi juragan batik bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Ketrampilan membatik telah dimiliki, harga bahan baku terjangkau, pewarna alam dari tumbuh-tumbuhan dapat diramu sendiri. Sedangkan proses pewarnaan juga mampu dikerjakan sendiri. Tinggal niat dan kebersamaan dalam satu komunitas serumpun yang diharapkan jadi motivasi. Inilah pemikiran awal terbentuknya kelompok pengrajin batik pada tahun 2008, dengan jumlah anggota awal sekitar 30 orang dan saat ini telah menjadi 68 orang.
Saat mengunjungi show room batik di dusun Karangrejek, Mujilah (pengelola show room) menjelaskan bahwa kelompok batik Giri Asri telah mampu memproduksi 90 lembar batik per bulan, dengan berbagai motif. Rata-rata proses pembuatan 1 (satu) lembar batik dengan ukuran 235 x 105 cm antara 15 sampai 20 hari. Jangka waktu proses produksi mungkin agak lama, karena masih dikerjakan secara sambilan oleh masing-masing anggota kelompok di samping tugas utamanya sebagai ibu rumah tangga.
Untuk membantu para pembatik memperoleh akses modal usaha, mereka dihimpun dalam wadah Koperasi Serba Usaha (KSU) Catur Makarya. Dari Koperasi, setiap anggotanya bisa memperoleh pinjaman modal maksimal Rp. 3 juta dengan bunga 1%. Bila membutuhkan lebih, KSU Catur Makarya dapat menjembatani perolehan pinjaman dari BNI’46 dengan tingkat bunga 0,6 % per bulan , demikian Pargiyanto.
Usaha Pengadaan bahan baku mori sampai saat ini tidak ada kendala yang berarti. Kerjasama dengan Koperasi batik, baik dalam pengadaan mori maupun penjualan kain batik telah terbina dengan baik. Saat ini kurang lebih sekitar 500 potong batik dititipkan di berbagai show room dan galery batik di Yogyakarta seperti : Korsa Batik, Mustokoweni, Mirota Batik dan yayasan Royal Silk. Untuk memonitor produk yang telah terjual, setiap minggu sekali stock batik di berbagai tempat penitipan tersebut di pantau. Dengan harga jual kurang lebih Rp. 350 ribu, keuntungan per potong sebesar Rp. 200 ribu. Sedangkan untuk mendorong pangsa pasar, kelompok batik Giri Asri kerap mengikuti berbagai event pameran. (PF)
|